Selamat Datang di Weblog UPTD. PUSKESWAN PADANG PANJANG SUMATERA BARAT

Jumat, 18 November 2016

Jerami Padi Fermentasi

Kesulitan penyediaan hijauan makanan ternak (HMT) selama musim kemarau dapat ditanggulangi dengan mengoptimalkan pemanfaatan jerami padi yang melimpah . Melimpahnya jerami padi pada saat panen, dapat disimpan dan diawetkan melalui beberapa metode fermentasi yang telah dikembangkan dan salah satunya dengan menggunakan larutan biostarter jamur Trichoderma sp. Melalui proses fermentasi, jerami padi dapat ditingkatkan nilai nutrisi terutama kandungan serat kasar dan juga palatabilitasnya karena bau jerami padi fermentasi (JPF) sangat disukai oleh ternak (Purnama dan Hidayat, 2006).

Nah,, JPF sebanyak 6 kg kering yang setara dengan 35 kg jerami segar kita berikan 3 tahap yaitu pada jam 12 .00, jam 14.00 dan jam 17 .00. Untuk menutupi kekurangan gizi dan mineral dan sebagai upaya meningkatkan bakteri rumen, diberi tambahan pakan penguat yang terdiri dari konsentrat sebanyak 1 kg, dedak padi I kg dan ampas tahu sebanyak 5 kg yang diberikan 2 tahap yaitu pada pagi hari dan sore hari masing-masing 50%.
Hasil yang didapatkan jika kita menggunakan pakan penggemukan ini yaitu memberikan PBBH 0,73-0,98 kg/hari menyamai PBBH pada penggemukan sapi PO dengan pemberian rumput Raja sebesar 10% dari bobot hidup.

Untuk penggemukan sapi potong disarankan bobot badan hidup (BBH) awal sapi bakalan sebaiknya diatas 250 kg, karena dengan BBH yang tinggi diperkirakan akan mendapatkan PBBH yang tinggi.
Sumber : Hidayat dan Purnama, R.D. 2006. Pengamatan Pemberian Jerami Padi Fermentasi (JPF) Yang Disuplementasi Pakan Penguat Pada Penggemukan Berbagai Jenis Sapi Potong. Balitnak : Temu Teknis Nasional Tenaga Fungsional Pertanian 2006. (Vet-Indo)

Rabu, 03 Agustus 2016

Pahami Perbedaan Probiotik, Prebiotik dan Sinbiotik

Seringkali kita menemukan dalam keterangan suatu produk terdapat kandungan probiotik, prebiotik maupun sinbiotik. Ketiganya telah banyak dilakukan penelitian dan diketahui memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Tidak hanya bagi kesehatan manusia namun juga banyak memberi manfaat bagi kesehatan hewan ternak.
Penampang salah satu bakteri probiotik. 
Penggunaan bakteri hidup untuk memperbaiki kesehatan manusia sudah lama diketahui misalnya dengan makan yoghurt yang berisi bakteri asam laktat. Hal ini berkembang lebih lanjut dengan memanfaatkan bakteri asam laktat tertentu yang dipakai sebagai minuman kesehatan seperti yoghurt yang berisi Lactobaccillius casei strain Shirota. Sebenarnya apa itu probiotik, prebiotik dan sinbiotik, serta apa manfaatnya untuk kesehatan terutama saluran pencernaan?

Probiotik
Sebagaimana disarikan dari Buku Kompendium dan Pelengkap Imbuhan Pakan yang disusun oleh Prof Dr Ir Budi Tangendjaja MS dkk dan diterbitkan GITAPustaka (Infovet Group) pengertian probiotik merupakan mikroba/bakteri hidup yang dipakai sebagai bahan untuk memperbaiki kesehatan terutama sistem pencernaan. Tubuh ternak sebenarnya penuh dengan bakteri, baik itu bakteri baik (non patogen) maupun bakteri jahat (patogen).
Ketakutan pemakaian antibiotic growth promoter (AGP) dinegara-negara Eropa mengakibatkan peternak mencari alternatif pengganti AGP. Salah satu pengganti yang banyak diteliti adalah penggunaan probiotik. Perlu ditegaskan bahwa tidak semua produk mikroba dinamakan probiotik.

Selasa, 19 Juli 2016

Impor Daging Sapi India : Pemerintah Harusnya Tunggu Keputusan MK

Jakarta. Dewan Pimpinan Pusat Peternak sapi dan Kerbau Indonesia (DPP PPSKI)  meminta pemerintah menunda rencana impor daging India atau negara manapun yang belum bebas PMK (Penyakit Mulut dan Kuku) sampai ada keputusan dari Mahkamah Konstitusi.

Ketua PPSKI Teguh Boediyana mengemukakan penyebabnya adalah pasal  dalam UU Peternakan dan Kesehatan Hewan No 41/2014 yang membuka peluang masuknya daging sapi dari negara yang tidak bebas PMK masih dalam proses siding uji materi di Mahkamah Konstitusi.  Sidang tanggal 27 April mendatang agenda adalah mendengarkan penjelasan dari DPR-RI dan saksi ahli dari Pemerintah.

Selama ini, PPSKI diketahui  konsisten menolak rencana pemerintah mengimpor daging sapi maupun kerbau dari Negara tidak bebas penyakit mulut dan kuku (PMK).  PPSKI memandang kebijakan pemerintah membuka pintu impor daging  dari negara yang belum bebas PMK  tidak bijak dan sangat terburu-buru.

Teguh Boediyana menjelaskan, pemerintah samasekali tidak mempertimbangkan  masuknya PMK  yang sangat berbahaya bagi ternak berkuku genap sepeti sapi, kerbau, kambing, domba, dan babi.  “Pengalaman Inggris ketika terjadi outbreak PMK  di tahun 2001 harus memusnahkan sekitar 600 ribu ekor sapi dan sempat juga ekor domba dan ternak berkuku genap lainnya.  Negara-negara yang belum bebas PMK juga harus mengeluarkan anggaran yang tidak kecil untuk melakukan vaksinasi ternak mereka,” ungkap dia.

Senin, 25 April 2016

Sejarah Sapi Perah Di Indonesia

Sejarah Sapi Perah Di Indonesia

Sejarah Sapi Perah Di Indonesia : Sapi merupakan salah satu hewan ternak yang penting sebagai sumber protein hewani, selain kambing, domba dan ayam. Sapi menghasilkan sekitar 50% (45-55%) kebutuhan daging di dunia, 95% kebutuhan susu dan 85% kebutuhan kulit(Menteri Negara Riset dan Teknologi, 2005). Sapi berasal dari famili Bovidae. seperti halnya bison, banteng, kerbau (Bubalus), kerbau Afrika (Syncherus), dan anoa. Pemeliharaan sapi secara intensif mulai dilakukan sekitar 400 tahun SM. Sapi diperkirakan berasal dari Asia Tengah, kemudian menyebar ke Eropa, Afrika dan seluruh wilayah Asia. Menjelang akhir abad ke-19, sapi Ongole dari India dimasukkan ke pulau Sumba dan sejak saat itu pulau tersebut dijadikan tempat pembiakan sapi Ongole murni. Pada tahun 1957 telah dilakukan perbaikan mutu genetik sapi Madura dengan jalan menyilangkannya dengan sapi Red Deen. Persilangan lain yaitu antara sapi lokal (peranakan Ongole) dengan sapi perah Frisian Holstein di Grati guna diperoleh sapi perah jenis baru yang sesuai dengan iklim dan kondisi di Indonesia (Menteri Negara Riset dan Teknologi, 2005).